JAKARTA - Hasil ujian nasional (unas) tingkat SMA, SMK, dan madrasah aliyah (MA) di seluruh Indonesia rampung diumumkan kemarin. Meski secara rata-rata terjadi penurunan nilai hasil unas, Depdiknas tidak menganggap kualitas unas tahun ini turun.
"Sebab, standar kelulusan tahun ini berbeda. Lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas Bambang Wasito Adi kepada Jawa Pos kemarin.
Tahun ini, dengan tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika, siswa harus memperoleh nilai rata-rata minimal 5 dengan nilai paling kecil di antara ketiganya adalah 4,25. Atau, salah satu mata pelajaran mendapat nilai 4 dengan syarat dua mata pelajaran lain mendapat nilai 6. Sementara itu, tahun lalu nilai rata-rata minimal 4,5.
Pada hasil unas tahun ini, untuk SMA bidang IPA rata-rata nilainya 7,51. Padahal, tahun lalu rata-rata 7,64. Untuk bidang IPS, tahun ini rata-rata 6,83 dan tahun lalu 7,07. Untuk bidang bahasa, tahun ini 7,26 dan tahun lalu 7,29. Sementara itu, SMK justru meningkat dari tahun lalu 6,82 menjadi 7,21 tahun ini.
Mendiknas Bambang Sudibyo menegaskan, setiap orang yang lulus unas pendidikan kesetaraan Paket A, B, C tetap memiliki hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Mereka berhak memperoleh hasil dan kesempatan belajar yang sama atau setara dengan pendidikan formal. Baik memasuki lapangan kerja maupun melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
"Untuk itu, setiap lembaga diminta mematuhi ketentuan perundangan agar tidak diindikasikan melanggar hak asasi manusia," jelas guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu.
Pengumuman kelulusan di berbagai daerah disambut suka cita oleh siswa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka mengungkapkannya dengan melakukan aksi coret-coret pada baju seragam dan konvoi di jalan raya.
Menanggapi hal tersebut, Utomo Dananjaya, pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Jakarta, mengatakan, ekspresi itu menunjukkan bahwa siswa merasa terbebas dari kekangan selama menjalani pendidikan.
Ekspresi perayaan kelulusan yang kini makin vulgar itu, lanjut Utomo, juga bisa diartikan sistem pembelajaran di sekolah terlalu menindas sehingga mereka tidak senang. "Ini situasi atau kenyataan yang dihadapi siswa," sambungnya.
Logikanya, jika siswa berada di sekolah yang menyenangkan, ketika harus meninggalkannya, mereka justru bersedih. "Mereka merasa berat dan menangis. Bukan malah senang dengan berbagai ekspresi seperti yang ada sekarang," tuturnya.
Utomo mengharapkan, para pendidik bisa menyadari fenomena itu dan mencari jalan keluar dengan mengubah pandangan sekolah yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Perubahan yang dilakukan juga harus mendasar. Bukan sekadar tambal sulam.
Menurut Utomo, sudah saatnya mengembangkan sistem pendidikan yang memberikan kebebasan kepada siswa atau siswa menjadi perhatian utama. Sebuah teori psikologi menyebutkan, ketika anak-anak berada dalam kondisi yang menyenangkan, molekul dalam otak akan bergerak lebih bebas dan lebih ringan. Dampaknya, daya tangkap dan daya rangsangnya menjadi lebih efektif.
"Tidak hanya harus disiplin untuk menghafal setiap hari. Disiplin ya untuk tahu kapan dia harus belajar," tandasnya.
Sabtu, 16 Juni 2007
Konvoi Kelulusan, Bukti Sekolah Terlalu Menindas
Diposting oleh
Rahman Reza, Ejaa08
di
20.18
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
yaa konvoi aja terus
yaa konvoi aja terus
Posting Komentar