

Type your summary here
Type rest of the post here
Sabtu, 16 Juni 2007
GERRARD 8 WITH HIS COUSTUM
Diposting oleh
Rahman Reza, Ejaa08
di
22.20
0
komentar
Konvoi Kelulusan, Bukti Sekolah Terlalu Menindas
JAKARTA - Hasil ujian nasional (unas) tingkat SMA, SMK, dan madrasah aliyah (MA) di seluruh Indonesia rampung diumumkan kemarin. Meski secara rata-rata terjadi penurunan nilai hasil unas, Depdiknas tidak menganggap kualitas unas tahun ini turun.
"Sebab, standar kelulusan tahun ini berbeda. Lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas Bambang Wasito Adi kepada Jawa Pos kemarin.
Tahun ini, dengan tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika, siswa harus memperoleh nilai rata-rata minimal 5 dengan nilai paling kecil di antara ketiganya adalah 4,25. Atau, salah satu mata pelajaran mendapat nilai 4 dengan syarat dua mata pelajaran lain mendapat nilai 6. Sementara itu, tahun lalu nilai rata-rata minimal 4,5.
Pada hasil unas tahun ini, untuk SMA bidang IPA rata-rata nilainya 7,51. Padahal, tahun lalu rata-rata 7,64. Untuk bidang IPS, tahun ini rata-rata 6,83 dan tahun lalu 7,07. Untuk bidang bahasa, tahun ini 7,26 dan tahun lalu 7,29. Sementara itu, SMK justru meningkat dari tahun lalu 6,82 menjadi 7,21 tahun ini.
Mendiknas Bambang Sudibyo menegaskan, setiap orang yang lulus unas pendidikan kesetaraan Paket A, B, C tetap memiliki hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Mereka berhak memperoleh hasil dan kesempatan belajar yang sama atau setara dengan pendidikan formal. Baik memasuki lapangan kerja maupun melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
"Untuk itu, setiap lembaga diminta mematuhi ketentuan perundangan agar tidak diindikasikan melanggar hak asasi manusia," jelas guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu.
Pengumuman kelulusan di berbagai daerah disambut suka cita oleh siswa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka mengungkapkannya dengan melakukan aksi coret-coret pada baju seragam dan konvoi di jalan raya.
Menanggapi hal tersebut, Utomo Dananjaya, pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Jakarta, mengatakan, ekspresi itu menunjukkan bahwa siswa merasa terbebas dari kekangan selama menjalani pendidikan.
Ekspresi perayaan kelulusan yang kini makin vulgar itu, lanjut Utomo, juga bisa diartikan sistem pembelajaran di sekolah terlalu menindas sehingga mereka tidak senang. "Ini situasi atau kenyataan yang dihadapi siswa," sambungnya.
Logikanya, jika siswa berada di sekolah yang menyenangkan, ketika harus meninggalkannya, mereka justru bersedih. "Mereka merasa berat dan menangis. Bukan malah senang dengan berbagai ekspresi seperti yang ada sekarang," tuturnya.
Utomo mengharapkan, para pendidik bisa menyadari fenomena itu dan mencari jalan keluar dengan mengubah pandangan sekolah yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Perubahan yang dilakukan juga harus mendasar. Bukan sekadar tambal sulam.
Menurut Utomo, sudah saatnya mengembangkan sistem pendidikan yang memberikan kebebasan kepada siswa atau siswa menjadi perhatian utama. Sebuah teori psikologi menyebutkan, ketika anak-anak berada dalam kondisi yang menyenangkan, molekul dalam otak akan bergerak lebih bebas dan lebih ringan. Dampaknya, daya tangkap dan daya rangsangnya menjadi lebih efektif.
"Tidak hanya harus disiplin untuk menghafal setiap hari. Disiplin ya untuk tahu kapan dia harus belajar," tandasnya.
Diposting oleh
Rahman Reza, Ejaa08
di
20.18
2
komentar
Jumat, 15 Juni 2007
Menyiapkan Pencipta Robot melalui Pendidikan Mekantronika

Kurikulum Mengacu Kebutuhan Industri
Perkembangan industri yang pesat menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang menguasai teknologi otomatisasi alias robot. Kini, kebutuhan itu mulai direspons kalangan perguruan tinggi. Caranya dengan membuka pendidikan teknik mekantronika
BAYANGKAN ketika seorang ahli mesin ditantang mengoperasikan motor dengan tegangan 3 ribu volt dan arus 2 ribu ampere secara manual. Pasti dia tidak sanggup mengontrol daya sebesar itu tanpa bantuan komputer. Atau ketika seseorang yang ahli di bidang elektronika ditantang hal yang sama. Mungkin dia langsung mundur karena melihat mesin-mesin sebesar gajah.
"Yang akan tetap maju adalah ahli mekantronika, yakni mekanik dan elektronika. Dialah yang mampu menguasai otomasi," tutur Dr Ir Endra Pitowarno M.Eng, ahli robotika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)-Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menyudahi ceritanya.
Mekantronika, bidang khusus yang membahas mengenai otomatisasi (atau yang sering disebut otomasi dalam dunia teknik) kini kian dibutuhkan. Suka tak suka, Indonesia juga harus mulai bergerak ke arah itu. Oleh karenanya, perguruan tinggi (PT) sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk mampu menghasilkan ahli-ahli otomasi.
Di tanah air, belum banyak PT yang memiliki kekhususan bidang mekantronika. Sebuat saja Universitas Indonesia (UI), Politeknik Manufaktur Bandung, serta yang baru saja membuka program studi (prodi) tersebut PENS-ITS. Institut Teknologi Bandung (ITB) masih merintis untuk membuka program serupa dalam bentuk S-1.
Menurut dosen senior Fakultas Teknik UI, Dr Ir Wahidin Wahab, prodi teknik mekantronika yang berada di bawah jurusan teknik mesin tak begitu populer. Banyak mahasiswa teknik mekantronika yang setelah lulus malah bekerja menangani masalah manajerial di perusahaan. "Mereka masih mengejar gengsi dan gaji," katanya.
Tren tersebut berlangsung beberapa tahun yang lalu. Apalagi ketika ada larangan dari pemerintah dalam menggunakan tenaga mesin sebagai pengganti manusia beberapa tahun silam. Kini, aku Wahidin, tren itu memang mulai berubah. Kian banyak yang tertarik dengan dunia otomatisasi atau robotika. Tak sedikit remaja yang tergila-gila mengutak-atik kit untuk membuat robot.
Pernyataan Wahidin diamini oleh Dr Muljowidodo, ketua laboratorium otomasi dan robotika ITB. Menurut dia, indikasi tersebut sebenarnya sangat positif. Namun, yang harus lebih diperhatikan adalah kurikulum dan penerapannya. Robot yang dihasilkan harus berguna dan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat kita. "Itu yang akan menjadi nilai tambahnya. Mungkin saja kebutuhan kita dan Singapura berbeda. Sehingga, hanya orang kita yang dapat memenuhi kebutuhan kita," ungkap Muljo ketika ditemui pada final Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) kemarin.
Dua poin yang diungkapkan oleh Muljo tersebut yang coba dilaksanakan PENS-ITS. Sebagai politeknik yang baru membuka prodi tersebut, PENS-ITS menetapkan kurikulum yang berbeda. Endra, yang juga menjabat sebagai ketua prodi teknik mekantronika PENS-ITS, mengatakan bahwa kurikulum yang dilaksanakan mahasiswanya adalah kurikulum hasil perkawinan Amerika Serikat (AS) dan Jepang.
Hal itu diambil PENS-ITS terutama setelah mempelajari prodi teknik mekantronika di beberapa PT di Indonesia yang memiliki. Dia sependapat dengan Muljo, bahwa mahasiswa mekantronika harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, mereka diberi keseimbangan antara teori dan praktik.
Itulah salah satu alasan mengapa PENS-ITS memadukan kurikulum AS (yang diadopsi dari Massachusetts Institute of Technology) dan Jepang (yang diadopsi dari Tokyo Institute of Technology). Endra mengatakan, kurikulum AS cenderung memperdalam teori. Berbeda dengan Jepang yang ketika teori baru setengah matang lantas tak tahan untuk langsung digarap. "Untuk itu kami memadukan kedalaman teori dan semangat untuk langsung menggarap,"’ tegas pria yang rajin menulis buku mengenai robotika tersebut.
Menurut dia, mahasiswa harus sering diajak melihat kebutuhan masyarakat saat ini. PENS-ITS memiliki satu mata kuliah untuk mengakomodasi hal itu. Misalnya, satu mata kuliah (yang mereka contoh dari MIT) mewajibkan mahasiswa berkompetisi membikin robot. Namanya, mata kuliah robot competition.
Tak cukup sampai di situ, pada akhir kuliah mereka harus mampu menghasilkan suatu karya pada akhir berbentuk. Hanya, Endra menekankan, tentu bukan hanya robot seperti yang dibayangkan kebanyakan orang dengan tangan, kaki, dan mungkin juga kepala.
Robot yang dimaksud mungkin saja berbentuk segala rupa. Misalnya lengan, untuk memasang beberapa organ tertentu dalam kapal yang tak mungkin dilakukan manusia. Nah, karena PENS-ITS berkonsentrasi pada tiga bidang, ground robotic vehicle (darat), under water robotic vehicle (dalam air, misalnya kapal selam tanpa pengemudi), dan unman aerial (udara) maka mereka juga akan menghasilkan alat-alat tersebut.
"Perguruan tingi di dalam negeri harus rajin bekerja sama dengan perguruan tinggi di mancanegara. Kami sendiri ada kerja sama dengan Jepang. Kami membikin ICT management disaster risk," katanya. Mereka akan bekerja, antara lain, untuk membuat helikopter tanpa awak. Helikopter tersebut dipergunakan saat mengevakuasi korban bencana alam. Selain robot-robot berskala besar seperti itu, Endra mengatakan bahwa mahasiswa juga dituntut mampu mencipatakan robot yang aplikatif untuk kebutuhan industri.
Diposting oleh
Rahman Reza, Ejaa08
di
23.35
0
komentar